Selasa, 26 Oktober 2021

Pesan Maaf untuk Sahabat

 Selamat malam,

Bagaimana kabarmu ? Sahabatku ?

Semoga kamu dalam keadaan baik-baik saja. Kau tahu pandemi ini sangat menyiksaku, aku frustasif melihat keadaan ini, hidup serba terbatas, serba diatur, prokas prokes prokas prokes ! Tapi ada yang lebih aku khawatirkan. Keadaanmu !

Aku yakin kamu pasti tidak percaya. Hehee

Tapi aku mohon sekali ini saja beri aku kesempatan untuk kamu percaya. Sekali saja. Aku mengkhawatirkanmu. Titik.

Jadi aku ulangi sekali lagi pertanyaanku. Bagaiamana keadaanmu ? Baikah ? Sehatkah ? Semoga kamu salah satu dari sekian juta orang yang selamat dari wabah ini. Amiin.

Oh ya, kamu ingat kapan terakhir kita ketemu ?

Ah pertanyaan bodoh. Maaf aku salah mengajukan pertanyaan yang pasti jawabannya sudah kamu lupa.

Jika pertanyaanya, kamu ingat kapan terakhir kita bertutur sapa dalam chat, dm atau sejenisnya ?

Keledai ! Kenapa mengulang pertanyaan bodoh yang serupa. Sudah pasti dia tidak ingat lah boy !

Barangkali sudah terlalu lama semuanya berlalu aku sampai malu harus memulai dari pertanyaan-pertanyaan apa yang bisa membuat kita bisa cair mengobrol. Tanpa mempersoalkan hal-hal kacau yang telah kita lalui. Bisa gak sih kita seperti manusia normal kembali, seperti dua orang sahabat yang saling berkomunikasi secara wajar, saling melihat status harian satu sama lain, saling mensuport kehidupan satu sama lain. Bisa kan ? Bisa dong. Pliis.

Oke mungkin permohonanku terlalu naif setelah apa yang pernah aku lakukan kepadamu sahabatku. Entah sampai kapan aku mengucap seribu, sejuta, semiliar, setriliun maaf untukmu. Lebay ! Tapi demikian adanya. Bahwa aku ingin kamu sebagai sahabatku memaafkan segala kekhilafanku. Sungguh aku dalam masa-masa yang sulit waktu itu. Aku hanya tidak ingin kamu ikut terjebak dalam kubangan lumpur kesulitan itu. Biarkan aku sendiri yang menanggungnya, dalam kesendirian, dan memastikan kamu tetap dalam zona nyamanmu dengan kehidupan barumu.

Barangkali kamu tidak mengetahuinya, dan mungkin tidak pernah ingin mengetahuinya. Tapi kehidupanku setelah ayah pergi, sangat sulit, dihadapkan pada persimpangan-persimpangan hidup yang rumit. Yang aku ingat saat itu aku mempersibuk diri dengan komunitasku, menulis buku yang aku yakin tidak akan pernah sebagus sebelumnya, mengajar yang tidak sesemangat biasanya, dan benar sejatinya aku sangat kosong dan hampa berjuang sendirian. Tapi kemudian teringat, bahwa kamu tidak boleh ikut merasakan terpuruknya hidupku hari itu. Bersitku, kamu harus bahagia tanpa perlu repot-repot memikirkan titik terendah hidupku.

Maaf sahabat,

Aku yakin kamu pasti menghakimi aku sebagai orang yang paling tega, paling menyebalkan, atau bahkan pembunuh berdarah dingin yang tidak punya perasaan. Apapun penghakiman yang kamu berikan, aku siap atas semua tuduhan-tuduhan itu, bahkan jika tuduhan itu kamu publikasikan di media masa sekalipun aku rela jika itu kamu yang menulisnya. Silahkan, aku hanya ingin meluruskan lagi bahwa situasiku sangat sulit, sangat sangat sulit. Untuk kedua kalinya, aku mohon percayalah padaku tentang ini.

Maaf sahabat,

2021, mungkin sudah terlalu lama untuk menulisnya. Tapi umur yang semakin menua, menjadi orang tua, memiliki anak membuat aku semakin menyadari bahwa segala salah salama apapun harus selalu diperjuangkan maafnya. Aku tidak ingin kesalahan serupa menimpa pada anak-anakku. Sahabatku jika engkau sepakat denganku, aku mohon berikan maaf untukku. Beri komentar tulisan ini, atau kirimi aku email, bahwa kamu memaafkanku. 

Meski aku sadar bahwa tulisanku ini dibaca olehmu sangat kecil. Mungkin hanya nol koma sekian persen kamu membacanya. Dan bahkan ketika membacanya kamu akan berpikir ratusan kali untuk memaafkan dan menuliskannya. Tapi dari sekian kemungkinan kecil tersebut aku berharap kamu melakukannya. Lagian aku aneh mana ada manusia zaman sekarang yang baca blog, disaat segala yang instan dan menghibur hanya bisa dengan dilihat dan didengarkan tanpa dibaca. 

Maaf sahabatku,

Jika kamu membaca tulisan ini, maaf ya tulisanku sudah menghabiskan waktumu yang seharusnya dihabiskan untuk merawat keluargamu. Maaf ya. Assalamualaikum....


Selasa, 16 Maret 2021

Blog adalah sebaik-baik rumah untuk kembali

Aku kembali !

Hallo, selamat pagi ! Assalamualaikum !

Well, parah kelamaan banget ya aku gak buka blog ini lagi. So sibuk banget. Norak. Hahaha. Tapi mau sesibuk apapun aku, bagiku blog ini sudah seperti rumah. Rumah, yang ketika ditinggal sejauh apapun oleh anak ABG labil, dia akan tetep pulang kalau laper.

Shit, lama banget gue off. Jari-jemariku sampai agak kaku untuk hanya sekadar mengetik opening sebuah postingan blog. Kelihatan sekali kalau saya memang bukan penulis profesional dan selamanya akan begitu mungkin. (Buktinya nulis buku dua gak laku-laku amat)

Skip.

Asli gue gak nyangka dengan segala perubahan yang saat ini aku alamin di kehidupan sekarang. Bener-bener ya yang namanya hidup itu misterius banget. Dulu orang bebas beraktivitas kemana-mana, sekarang lu enggak. Dulu orang kumpul-kumpul sesuka hati, sekarang kumpul udah kaya satu jalan untukmenjemput mati. Dulu masker hanya untuk orang medis, sekarang semua orang dimana-mana memakainya. Dan, dulu gue susah mati mempertahanin hubungan hampir dua tahun sama seseorang, sekarang aku nikah sama orang yang baru dikenal hanya 6 bulan.

Hidup.

Sekarang umurku 26. Iya tua ! mau ape lu ?! Canda tua. Semakin kesini semakin banyak hal yang aku temui. Fase umur dimana Allhamdulillah aku sudah nemuin pekerjaan yang gue bisa stay lama disitu. Nemuin pasangan yang pas, atau kata anak zaman sekarang pasangan yang sefrekuwensi. (Eh bener gak sih nulisnya, mohon dikoreksi ya ). Dan.. diumur ini Allah ngasih aku amanah anak yang sangat lucu.

Bisa dibilang alur hidup gue untuk saat-saat ini ya hanya kantor-rumah, kantor-rumah, kantor-rumah gitu terus sampai kiamat. Jenuh ? Kadang, tapi ya mau giamana lagi sih. Ada istri yang harus gue nafkahi. Ada anak yang harus disusui. Ada beras yang harus dibeli. Ada minyak goreng, susu bendera, teh Jawa, ketjap Kentjana yang harus aku adopsi tiap bulannya. Jiaaah... khas banget ya problem manusia dewasa. Tapi aku bersyukur banget sih, bagaimanapun juga ini adalah amanah yang harus gue jaga dan gue syukuri.

 Dan bener-bener... gue gak nyangka banget sih asli aku bakal secepat ini ngerasain fase ini. Padahal due gue zaman masih kuliah, zaman bapak masih hidup. Aku berkelakar sama bapak “Pak, aku besok nikah umur 27 aja lah.” “Ya terserah kamu, kan kamu yang jalanin.” Jawab bapak tenang. Lalu umur 25 gue udah kawin. Nyesel gue....

Harusnya umur 21 nikahnya.

Canda.

Serius deh banyak banget hal-hal yang gue gak nyangka sebelumya deh. Termasuk nih jarak gue nikah dengan my-ex itu hanya hitungan hari. Gak ada angin, gak ada hujan, gak janjian, gak lomba cepet-cepetan. Hitungan hari. Seneng aja gitu lihatnya. Kita sama-sama sudah menemukan orang yang tepat, setelah sekian luka-luka lama yang mungkin belum mengering. Tapi semoga itu adalah obat. Amiin.

Kerjaan. Juga apalagi, abdi negara adalah hal yang paling gak nyangka bakal gue dapetin. Kuliah empat tahun, lulus masih moratorium, yang artinya bener-bener gak ada kesempatan untuk nyoba bersaing. Wiyata 4 tahun, lalu ada pengumuman recruitment dan gue nyoba untuk pertama kalinya dengan sistem seketat itu Dan gue harus bersaing head to head dengan cewe sekelas gue waktu zaman kuliah, dan dia secara prestasi akademik selalu ada di atas gue, rajin, ulet, bertanggung jawaban dengan kerjaan berbanding terbalik dengan gue, lalu gue yang Lulus. Udah. Antara seneng dan sedih bahwa gue lulus dengan sekaligus mengubur mimpi teman gue sendiri. Hidup orang dewasa memang keras.

Gak ada yang nyangka bakal seperti ini bener-bener deh

Banyak banget hal-hal lain yang mungkin akan jadi berlembar-lembar halaman untuk gue menceritakan hal-hal tak terduga di kehidupanku sekarang. Dan.. saat di fase inilah gue mulai mengalami jenuh bersosial media. Saat dimana gue membuka sosial media hanya untuk sekadar melihat postingan berita, gosip artis pelakor, ujaran kebencian, postingan hoax, dan postingan jokes bapak-bapak di grup whatsapp keluarga. Semenjenuhkan itu teman-teman. Makannya gue sekarang jarang banget yang namanya post status di sosmed yang circel gue gak aktif-aktif amat disitu.

Tapi dari sekian hal yang menjenuhkan itu satu hak yang masih gue nikmati dari sosial media yang sejak 2009 sudah gue buat adalah; aku melihat banya teman-temanku dan orang-orang yang pernah dekat denganku kini sudah bertumbuh dengan baik dengan kehidupannya masing-masing. Saya sering senyum-senyum sendiri melihat postingan mereka, sekadar memberikan like pada postingan mereka seakan ingin menunjukan bahwa aku sangat senang dengan pencapainmu sekarang. Iya sekadar like, karena kolom comment tiba-tiba menjadi wadah yang terlalu canggung untuk dituliskan untuk orang-orang yang sudah lama tidak berkabar.

Praktis bisa dibilang hampir bisa dipastikan beranda sosial mediaku sekarang dipenuhi postingan teman-teman yang menikah, memiliki anak, wisuda untuk jenjang kuliah yang kedua, mendapatkan pekerjaan yang nyaman, dan hal-hal kebanggaan manusia dewasa lainnya. Semua postingan mereka seketika membuat segala bayangan masa lalunya sudah hilang seketika. Bahwa masa lalu hanya tinggal sejarah. Segala khilaf dan salah sudah mendapatkan maaf. Karena melihat mereka menemukan kebagiannya, aku juga ikut kesawaban  bahagianya mereka.

Sesederhana itu teman-teman.

Aku kira tulisanku ini ngalor-ngidul gak karuan ya. Harap maklum sudah saking lamanya gue gak nulis. Sekarang aku ingin mulai memberanikan diri mulai menulis lagi. Aku belum mau terburu-buru terobsesi menulis buku lagi. Malu, menulis blog saja masih terbata-bata gini. Hikz

Baiklah anggap saja ini pemansan. Dari sekian banyak tulisan-tulisan yang mungkin kedepan akan saya lakukan. Semoga. Akhir kata, lewat blog ini aku juga ingin berkabar kepada para pembaca setiaku tentang kehidupanku sekarang.

Iya, untuk para pembaca setiaku. Tidak khusus dan tidak istimewa untuk siapa.Tulisanku berhak dibaca oleh siapapun dan dengan tanpa ada tendensi apapun. Sekian. Wassalamualaiakum ...

Kamis, 09 Maret 2017

Generasi Surat-menyurat VS Generasi Whatsapp



Beberapa waktu yang lalu saya menerima surat dari sebuah instansi. Salah satu hal yang menarik perhatian saya selain isi dari surat itu adalah kertas kecil dengan motif bergambar yang menempel di pojok kanan atas amplop itu.

Kami yang lahir di tahun 90’an sepakat menyebut kertas itu sebagai perangko. Nama yang sudah jarang sekali saya dengar di era sekarang. Saking lamanya istilah itu tidak terdengar dalam percakapan manusia modern sampai-sampai ibu saya kesulitan membedakan mana Perangko mana Materai. Terlebih Materai sekarang juga macam-macam jenisnya, harganya, dan kekuatan hukumnya. Harap maklum jika beliau kesulitan membedakannya. Mungkin karena bukan Perangko ataupun Materai yang saat ini beliau butuhkan; tapi mantu.

Apa sih !

Perangko yang menempel di amplop itu membuat saya beberapa saat terdiam. Lalu dengan hati-hati mencoba melepasnya.  Saat saya sedang bersusah payah melepas perangko itu, tiba-tiba pikiran saya berputar jauh ke masa lalu. Ke sebuah masa dimana saya kecil yang sejatinya memiliki gaya hidup urakan, liar, dan lepas kendali, ternyata memiliki hobi yang sangat bermartabat; koleksi perangko. Imut sekali bukan.

Imutnya sama kayak cowok yang badannya gede, tatoan, rambutnya gondrong, tapi hobinya nonton drama korea Goblin. Apa-apaan !

Well, saya suka mengoleksi perangko gara-gara waktu itu rumah saya sering dijadiin transit surat menyurat untuk orang-orang di sekitar. Udah kayak kantor pos aja ni rumah. Saya sangat tertarik, karena perangko memiliki berbagai macam gambar. Alhasil, jadilah saya kumpulkan dan tempelkan satu per-satu perangko di buku khusus.

Jika dulu anak-anak sekelas di SD ditanyain apa hobinya ? Mayoritas anak-anak cowok bakal menjawab; main bola ! Sedangkan anak-anak cewek akan menjawab; main boneka ! Maka waktu itu saya jadi pembeda, saya jawab; koleksi perangko !

Tsaaah... semuanya melongo. Saya nelen ludah. Pahit. Gak ada yang percaya.

Oke, mungkin level fanatisme saya sebagai kolektor perangko belum sampai level garis keras. Iya, garis keras – adalah mereka yang mengoleksi perangko lebih dari sekedar motif dan gambarnya saja, tapi juga memerhatikan diameter porforasi perangko. EDAN ! Mereka percaya perangko dengan detail ukuran porforasi tertentu bisa bernilai fantastis secara materil. Bagaimanapun juga waktu itu saya adalah anak SD, saya tidak mungkin mikir sejauh itu. Dulu... mikirin bagaimana caranya bikin rambut belah tangah yang berimbang aja dah pusing. 

Lalu apa inti dari postingan ini ?

Simpel, saya kangen era itu. Melihat perangko sebagai saksi sejarah atas sistem komunikasi yang sangat sederhana, jujur, dan apa adanya. Bagaimana bisa dulu orang sekedar menanyakan kabar melalui surat, lalu baru akan mendapatkan balasannya seminggu, sebulan, atau bahkan setahun kemudian. Tanpa pernah ia tahu saat surat itu diterima, bisa saja yang mengirim surat sedang sekarat.

Bagaimana bisa dulu sepasang kekasih yang dipisahkan oleh jarak bisa bertahan. Sedangkan kerinduan seakan sudah tidak bisa dibendung lagi. Seolah berusaha menjaga kepercayaan dengan menulis surat cinta untuk kekasih di lain kota, tanpa pernah tahu sebenarnya sekarang kekasihnya benar-benar masih mencintainya atau diam-diam sudah menemukan sandaran hati yang lain.

Terpujilah... mereka yang bertahan melalui masa-masa sesulit itu.

Rasanya, lagu Kangen-nya Dewa 19 adalah satu-satunya hal yang menentramkan muda-mudi di zaman surat menyurat. Betapa mahal dan berharganya komunikasi di era itu. Jangan heran jika kalian menemukan mereka anak-anak angkatan lama lebih mensyukuri sebuah proses komunikasi. Surat menyurat sudah mengajarkan semuanya ! Perangko saksinya !

Gak kayak anak zaman sekarang, yang rentan galau. Rentan gusar. Rentan gundah. Ah apalah itu. Padahal komunikasi di era ini sudah sangat memanjakan. Kita bisa saling bertukar kabar dan hanya dalam hitungan detik sudah mendapati jawabannya.

Bagaimana bisa kalian merasa sangat menderita saat whatsapp sudah centang dua, sudah dibaca, tapi gak di bales. Bisa saja dia kuotanya abis kan, sampai gak sempet bales.

Bagaimana bisa kalian merasa sangat putus asa saat nge-whatsapp si-dia sudah centang dua, dan masih belum dibaca juga. Padahal last seen-nya sedang online. Bisa aja dia lagi sibuk di grup wa kantornya kan.
Bagaimana bisa kalian merasa sangat sebal saat tahu ternyata si-dia sengaja mematikan fitur read, biar gak kelihatan mana yang sudah dibaca mana yang belum. Bisa aja dia gitu biar bisa fokus kerja, dan pada akhirnya demi kebaikanmu juga kan.

Bagaimana bisa dengan segala kemudahan berkomunikasinya, kalian tumbuh menjadi generasi yang tidak percayaan. Seakan-akan chat tidak pernah cukup untuk menjelaskan. Sampai-sampai menuntut dikirim gambar dengan dalih no pict = hoax. Tidak peduli apakah si dia lagi jalan sama temennya atau lagi bab di wc.

Bagaimana bisa kalian sedepresif itu kawan. Lihatlah ke belakang. Jauuuuh kebelakang. Ada generasi yang lebih menderita dari kalian. Ketahuilah kegalauan kalian belum ada apa-apanya. Sungguh belum ada secuil pun.

Intinya, jaga dan syukuri komunikasi kalian. Bertumbuhlah dengan prasangka yang baik. Biasakan percaya kepada orang lain. Sadarilah, orang lain kadang juga butuh waktu untuk sendiri. Satu hal, komunikasi yang memudahkan kadang juga melelahkan. Meskipun lelahnya belum seberapa dibanding dengan era dimana surat berjaya.

Tidak peduli kalian berasal dari generasi apa, pesan saya; syukuri... syukuri... dan syukuri. Terimalah komunikasi sebagai nikmat Tuhan yang tidak boleh kita ingkari.

Salam.

Senin, 27 Februari 2017

Fase Hidup Lagu-lagu Banda Neira



Banda Neira. Siapa sih yang gak tahu band indie beraliran folks yang satu ini. Kalau kamu serius beneran gak tahu, berarti ada yang salah dengan selera musikmu.

Oke, maaf saya mengawali postingan ini dengan cukup provokatif. Harap maklum jika saya emosional, soalnya Band yang akan saya review kali ini sudah bubar. Iya, kayak hubungan kita.

*skiiiiip*

Sekilas info aja buat lu yang masih belum tahu Banda Neira. Banda Neira adalah sebuah proyek musik iseng yang digarap dengan serius. Band ini hanya digawangi oleh dua orang: Ananda Badudu & Rara Sekar. Dianggap proyek main-main, karena band ini awalnya hanya sebagai kegiatan selingan disela-sela kesibukan Ananda Badudu yang merupakan wartawan Tempo dan Rara Sekar yang aktif di LSM.


Menarik ketika Banda Neira sebagai sebuah proyek iseng ternyata memiliki lagu-lagu dengan lirik berkualitas. Iseng tapi hasilnya berkuaitas. Iya, gak kayak kita ya... udah serius tapi hasilnya nihil.

*delete scene*

Selama Banda Neira eksis, banyak lagu-lagu yang sudah mereka ciptakan. Puisi-puisi legendaris yang mereka lagukan juga semakin menempatkan Banda Neira ke dalam jajaran Band yang tidak pernah main-main untuk urusan lirik.

Menurut saya, yang menarik dari Banda Neira adalah lagu-lagunya tidak melulu ‘menjelmakan’ diri sebagai ‘remaja’ yang dimabuk cinta. Tapi kadang juga ‘menjelma’ menjadi seorang ‘sahabat’, kadang juga menjadi ‘orang tua’ yang merindukan anaknya. Bahkan juga ‘menjelma’ sebagai sepasang kekasih yang menua bersama – sampai jadi debu. Singkat kata, lagu-lagu Banda Neira seperti gambaran fase hidup manusia, yang secara tidak langsung membuat Band ini memiliki pangsa pasaran yang luas. Hahaha.

###

Berikut ini adalah lagu-lagu Banda Neira yang paling sering saya dengarkan:

#Hujan di Mimpi

Lagu yang satu ini agak telat masuk di playlist saya dibanding dengan lagu-lagu Banda Neira yang lain. Sentuhan musiknya khas Banda Neira banget. Permainan petikan gitar dan dua vokal Ananda Badudu dan Rara Sekar yang saling mengisi semakin membuat lagu ini begitu menghanyutkan. Terutama untuk mereka yang mulai jatuh cinta.

“Semesta bicara tanpa bersuara.
Semesta ia kadang buta aksara.
Sepi itu indah... percayalah.
Membisu itu... anugerah.
Seperti hadirmu di kala gempa.
Jujur dan tanpa bersandiwara.
Teduhnya seperti hujan di mimpi.
Berdua kita berlari.”

#Utarakan

Adalah salah satu lagu dari Album Yang Patah Tumbuh Yang Hilang Berganti. Di lagu ini hanya ada vokal dari Ananda Badudu. Mungkin semacam perwakilan dari semua kegalauan kaum adam – utarakan. Lagu yang mengajak kita untuk jujur mengatakan apa yang tengah kita rasakan. Meskipun kadang mengutarakan sesuatu tidak semudah yang kita bayangkan.
“Dan hari ini takkan kau menangkan.
Bila kau tak berani mempertaruhkan.
Walau tak semua tanya datang beserta jawab.
Dan tak semua harapan terpenuhi.
Ketika berbicara juga sesulit diam.
Utarakan... utarakan... utarakan.”
#Ke Entah Berantah
Mungkin ini lagu Banda Neira yang pertama kali saya dengar. Gegara salah satu radio terlalu sering memutar lagu ini. Lagu yang ketika pertama kali mendengarkannya, saya butuh waktu berkali-kali untuk mencerna liriknya.

“Dan kawan.
Bawaku tersesat ke entah berantah.
Tersaru antara nikmat atau lara.
Berpeganglah erat, bersiap terhempas ke tanda tanya.”

#Esok Pasti Jumpa (Kau Keluhkan)

Selanjutnya lagu ini juga beberapa kali coba saya dengarkan berulan-ulang. Pilihan kata dalam liriknya membuat saya untuk terus menerus menekan tombol repeat. Lagu yang mewakili jiwa-jiwa sepi yang menangung terlalu banyak rindu. Sebut saja, ini adalah lagu kebangsaannya kaum LDR. Sabar ya... esok pasti jumpa.

“Kau keluhkan sunyi ini tanpa ada yang menemani.
Kau keluhkan risau hati yang tak kunjung berhenti.
Rasa itu kau rindu.
Dan kau inginkan tuk segera tiba.
Dan kembali bermimpi.
Hanyut dalam hangatnya pelukan cahaya matahari.”

#Rindu

Adalah sebuah musikalisasi dari puisi Subagio Sastrowardoyo. Juga salah satu lagu yang saya dengarkan lebih awal daripada lagu-lagu lain. Sebagai sebuah sunatulloh rasanya rindu tidak pernah membuat kita baik-baik saja. Bener gak ?

“Rumah kosong.
Sudah lama ingin dihuni.
Adalah teman bicara.
Siapa saja atau apa.
Jendela, kursi, atau bunga di meja.
Sunyi.
Menyayat seperti belati.”

#Di Beranda

Mungkin ini lagu Banda Neira yang paling dewasa – just in my opinion. Lagu yang membuat saya mengingat bagaiman kedua orang tua saya mengkhawatirkan anaknya dengan berlebihan. Kadang menyadarakan, mungkin kelak saya pun akan demikian. Kita tidak pernah tahu, mungkin banyak hal-hal yang saat muda sangat kita benci seperti dikekang dan kelak diam-diam akan kita terapkan juga kepada anak-anak kita. Percaya ? Tinggal tunggu waktunya saja. Selamat menua...

“Usahlah kau pertanyakan kemana kakinya kan melangkah.
Kita berdua pasti tahu, dia pasti pulang ke rumah..”

#Yang Patah Tumbuh Yang Hilang Berganti

Mungkin ini salah satu lagu yang paling nge-hits di kalangan anak muda penikmat Banda Neira. Judul yang cukup emosional bagi kalangan depresif yang baru saja ditimpa patah hati, kehilangan, atau semacamnya. Lagu ini recomended banget untuk siapa saja yang sudah tidak memiliki figur seorang teman untuk sekedar menyemangati pasca patah hati. Lagu ini adalah penghibur diri yang bermartabat. Lagu ini menjual mimpi yang secara terang-terangan kita amini. Akui saja!

“Yang hancur lebur akan terobati.
Yang sia-sia akan jadi makna.
Yang terus berulang suatu saat henti.
Yang pernah jatuh kan berdiri lagi.
Yang patah tumbuh, yang hilang berganti.”

#Derai-derai Cemara

Lagu kesekian dari Banda Neira yang merupakan proyek musikalisasi puisi. Adalah puisi legendaris Chairil Anwar, Dera-derai cemara (1949). Sebut saja, Banda Neira berhasil membuat musikalisasi yang lues untuk puisi se-legend ini. Semacam ikut merasakan kegetiran Chairil Anwar diakhir hidupnya.

“Cemara menderai sampai jauh.
Terasa hari akan jadi malam.
Ada beberapa dahan di tingkap merapuh.
Dipukul angin yang terpendam.”

#Sampai Jadi Debu

Lagu penutup, yang mewakili alur hidup dari lagu-lagu Banda Neira. Sampai jadi debu, diam-diam membuat kita berharap dapat memilih orang yang tepat untuk bisa menua bersama.

“Tiap pagi menjelang, kau di sampingku.
Ku aman ada bersamamu.
Selamanya.
Sampai kita tua.
Sampai jadi debu.”

###

Singkat kata, postingan ini saya dedikasikan untuk Banda Neira yang sudah menyehatkan telinga saya. Lebih dari itu, terima kasih sudah mengajarkan saya merayakan jatuh cinta dengan sederhana dan mengikhlaskan patah hati dengan bijaksana.

Salam...

Jumat, 30 Desember 2016

Aku di Tahun 2016



Gak kerasa, tahun 2016 sudah akan berlalu. Perasaan belum lama perayaan tahun baru 2016-nya, sekarang sudah main akhir tahun aja. So far, tua gak kerasa ya.

Di tahun 2016 produktivitas saya di blog ini menurun drastis. Saya seperti kehabisan tenaga untuk meluangkan waktu menulis. Banyak alasan yang membuat saya tidak se-produktif dulu. Well, saya sedang tidak ingin membahas keterpurukan postingan saya di blog ini. Melainkan saya ingin mengingat kembali apa yang sudah saya lakukan selama tahun 2016 ini. Bukan untuk berjumawa ria, bukan juga untuk ber-riya ria. Tapi untuk renungan saya pribadi, supaya bisa lebih baik lagi di tahun 2017.

Postingan ini berawal dari video bikinan facebook yang saya lihat beberapa waktu yang lalu saat saya baru log-in via PC. Video yang sekilas isinya menampilkan foto-foto saya selama setahun. Meskipun durasi videonya lebih terlihat seperti video bokep daripada video kaleidoskop. Tapi jujur, siapa yang menyangka durasi video sependek itu bakal bisa membuat saya merenung sangat lama, dan memaksa saya untuk kembali dan kembali untuk terus memutar videonya. Harus saya akui, facebook adalah media sosial yang paling memorable. Meskipun di satu sisi juga terlihat kurang kerjaan. Tapi tetap saya harga itu.

Bisa dibilang tahun ini tahun yang paling berwarna buat saya. Tapi juga tahun yang berat. Kita awali dari awal tahun ini, saat saya terpilih menjadi ketua komunitas @StandUpIndoKBM. Menjadi ketua komunitas ini ternyata membuat saya mendapatkan banyak sekali pengalaman yang mungkin tidak akan saya temukan di tempat lain. Hampir selama setahun, saya berusaha menjaga komunitas ini tetap solid. Sayangnya itu tidak mudah. Karakter anggota komunitas yang beragam membuat saya harus memutar otak lebih keras supaya semuanya berjalan baik-baik saja. Sempat muncul komunitas ‘sempalan’ semakin membuat saya cukup emosional. Semangat anak-anak untuk tetap memiliki mood yang baik untuk open mic juga menjadi pekerjaan rumah yang terus coba saya pecahkan. So far, hasilnya cukup memuaskan. Beberapa event bisa kami eksekusi dengan baik. Sebut saja Kebumen Nggambleh, Nggedebus #2, & Kompetisi Stand Up Comedy Kebumen 2016, adalah bukti bahwa kami baik-baik saja.

Semua event-event itu memiliki kesan-kesannya sendiri. Kebumen Nggambleh bisa dibilang jadi panggung terbesar dengan jumlah penonton terbanyak untuk saya sebagai local comic. Nggedebus #2, jadi event pertama saya sebagai orang yang bekerja keras di balik layar. Ternyata jadi orang di balik layar puasnya gak kalah dengan orang yang tampil di depan. Dan... Kompetisi Stand Up Comedy Kebumen 2016, jadi salah satu event yang paling menantang buat saya yang lagi-lagi sebagai tim di balik layar. Ritme hiburan stand up yang sedang menurun menjadi tantangan tersendiri untuk menggelar event ini. Tapi, hasil tidak pernah membohongi jerih payah kami. Event tersebut berhasil mengundang banyak peserta dari berbagai daerah untuk datang berkompetisi ke Kebumen. Manis sekali.

Tahun 2016 buat saya juga bisa dibilang sebagai tahunnya kegiatan sosial. Saya yang kebetulan menjadi salah satu tim penggerak di Perpustakaan Desa memaksa saya untuk membuat banyak kegiatan yang bisa mengundang banyak orang untuk datang ke Perpustakaan. Salah satu caranya adalah dengan membuat kegiatan pelibatan masyarakat yang berwujud pelatihan keterampilan.

Tugas itu sedikit banyak juga menguras energi saya untuk berpikir keras untuk menentukan kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan dapat diterapkan pasca latihan. Keterbatasan anggaran juga menjadi tantangan tersendiri. Dan dengan anggaran yang minim saya dibebani kegiatan paling tidak 2 jenis kegiatan setiap bulannya. Hmm.. sekali bukan.

Hasilnya, ya begitulah. Ada lah... beberapa kegiatan yang susah payah bisa saya kerjakan. Lalu siapa yang menyangka dari membuat kegiatan-kegiatan itu ternyata ada beberapa orang yang merasa sangat beruntung dan mengembangkan keterampilan yang mereka dapat saat pelatihan. Mendengar itu rasanya kelelahan saya terbayar lunas sudah. Tapi cerita tidak berhenti sampai di situ. Berkat kegiatan-kegiatan itu pula saya terbang ke Jakarta untuk beberapa hari merasakan gaya hidup orang jet set. Lalu beberapa minggu kemudian terbang ke Makassar untuk misi yang tidak jauh berbeda.

Selama perjalanan itu saya bertemu dengan banyak orang hebat. Orang-orang yang siap ‘menumbalkan’ dirinya untuk memajukan bangsa. Rasanya itu jadi perjalanan yang paling mahal dan berkesan yang mungkin akan sulit saya ulang di tahun depan.

Lalu... di tahun ini juga, akhirnya saya bisa menyelesaikan naskah buku kedua yang cukup menguras banyak waktu, tenaga, dan pikiran saya. Saking lamanya saya menulis naskah ini, saya sampai lupa kapan pertama kali saya memulainya. Harus saya akui ini naskah yang cukup sulit untuk diselesaikan. Mencoba move on dari gaya penulisan buku pertama ternyata susah. Sampai di sini saya sadar, ternyata move on dari kamu lebih mudah daripada move on dari gaya tulisan lama. 

*eh... duh

Sialnya adalah buku ini selesai ditulis saat kondisi pasar buku nasional sedang kurang baik penjualannya. Hal ini terlihat dari banyaknya penerbit yang mengurangi terbitan bukunya untuk genre tertentu. Bahkan penerbit yang menerbitkan buku pertama saya sekarang entah gimana kabarnya. Saya pun sempat corcol dengan teman penulis di negeri seberang. Akhirnya saya disarankan untuk tetap mengirimkan naskah ke beberapa penerbit, itung-itung iseng-iseng berhadiah. Sebagai teman yang baik akhirnya saya pun mengirimkan naskah ini. 

Tapi sebelum mengirimnya, saya menunjuk dua orang untuk menjadi first reader naskah saya. Sebut saja @Sila_ & @Faqih, mereka saya pilih karena memiliki sudut pandang yang berbeda terhadap sebuah tulisan. Dan... penilaian mereka sesaat setelah membacanya, semakin membuat saya percaya kalau naskah saya ada harapan. Siapa yang menyangka ‘cabe-cabean’ seperti @Sila_ bakal meneteskan air matanya saat sampai di bab terakhir, dan siapa yang menyangka orang se-kaku @Faqih bisa tertawa lepas. Kadang sampai di situ saja saya sudah puas, meskipun pada akhirnya buku ini mungkin tidak diterbitkan secara nasional.

Hemm... hal-hal di atas mungkin yang paling membuat tahun saya di 2016 sangat berwarna. Meskipun sebenarnya masih banyak hal-hal lain yang juga sangat mempengaruhi saya secara pribadi di tahun ini. Sebut saja seperti saya yang harus melalui satu tahun secara penuh tanpa sosok seorang ayah, saya yang semakin kompak dan dekat dengan ibu, saya yang bertemu dengan seorang perempuan yang merubah sudut pandang saya tentang cinta dan harapan, dan saya yang memutuskan secara sadar untuk berhenti menjadi stand up comedy­-an. Lalu yang saya tidak habis pikir adalah memiliki masa lalu yang menganggap semua tulisanku di social media adalah untuknya. Hemm.
Singkat kata, segala puji bagi Allah untuk tahun 2016 ini. Banyak doa-doa yang baik untuk tahun yang baru, baik itu untuk aku maupun untuk kamu.

Salam...